Di suatu malam, teman saya memperlihatkan foto milky way yang baru saja ia tangkap. Saya melihat gambar itu, lalu melihat ke arah langit, "mana milky way nya?"
Sambil menunjuk ke atas, ia menjawab milky way nya ada di sana, harus ditangkap dengan kamera.
Lalu saya buka kamera sendiri, memotretnya, namun tidak ada. saya bertanya lagi, bagaimana?
Ia menjawab, perlu ada setingan khusus, harus dalam pengaturan tertentu agar kamera bisa menangkap keindahan itu.
.
Saya termenung.
Bahwa milky way itu sedang berada tepat di atas kepala saya, namun saya gagal menangkapnya karena keterbatasan pengetahuan, ketidaktahuan.
.
Oh mungkin begitupun dalam kemampuan menangkap rahmat dan keindahan Tuhan. Saya bergumam.
Jika tadi tentang kamera, sekarang saya punya perangkat lain, akal. Namun akal ini belum mampu menangkap sang maha indah, sehingga barangkali butuh ilmu dan pengaturan tertentu untuk mampu mencapainya.
Seperti tadi milkyway, yang tepat di atas kepala saya, begitupun rahmat dan keindahanNya, ia tidak hanya berada di atas kepala, ia bahkan mencakup keseluruhan alam semesta raya.
Namun lagi-lagi, tanpa kesadaran dan pengetahuan, saya luput menyadari dan yang tampak hanya langit hitam.
.
Lalu diam-diam aku berdoa,
"Tuhanku, rahmatmu begitu luas dan terpancar tiada batas, maka mampukan aku menangkap seluruh keindahannya. Amin."
Garut, mei 2026
Adi Muhammad
0 komentar:
Posting Komentar